MEMAHAMI STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
- Diposting Oleh Admin Web PBA
- Kamis, 25 Januari 2024
- Dilihat 2179 Kali
Oleh: DR. Nurul Hadi, Lc., M.Pd
Pendahuluan
Pembelajaran Bahasa Arab pada hakikatnya sama dengan pembelajaran bahasa lainnya. Karena objek dari pembelajaran Bahasa Arab adalah bahasa. Sementara definisi dari bahasa itu sendiri adalah ujaran yang diungkapkan oleh kelompok (qaumun) tertentu untuk menyampaikan isi hati mereka (Ibnu Jinni: 391 H). Dengan demikian, bahasa secara universal terdiri dari tiga komponen penting, yaitu: (1) ujaran (ashwat); (2) dalam komunitas tertentu (qaumun); (3) mewakili isi hati (aghradh).
Dari tiga komponen bahasa di atas inilah kemudian muncul pandangan bahwa untuk mempelajari suatu bahasa, maka harus mencapai tiga kompetensi penting sebagai manifestasi dari tiga komponen bahasa itu sendiri. Ketiga kompetensi itu adalah (1) Kompetensi Kebahasaan; (2) Kompetensi Komunikatif; dan (3) Kompetensi Kebudayaan (Abdurrahman al-Fauzan dkk.).
Yang dimaksud dengan kompetensi kebahasaan adalah mencakup dua hal: a. Kemahiran berbahasa yang terdiri atas kemahiran-kemahiran (1) al-Istima’, (2) al-Kalam, (3) al-Qira’ah, (4) al-Kitabah; dan b. penguasaan unsur-unsur bahasa yang terdiri atas (1) al-Ashwat, (2) al-Mufradat, dan (3) al-Tarakib al-Nahwiyah (Ahmad Fuad Efendi: 2005).
Sedangkan kompetensi komunikatif adalah kemampuan berkomunikasi dengan penutur asli dalam konteks social, yang memungkinkan pembelajar mampu berinteraksi dengan penutur asli secara lisan dan tulisan, dan mampu mengekspresikan dirinya secara layak dalam berbagai posisi kemasyarakatan.
Adapun kompetensi kebudayaan adalah pemahaman terhadap budaya bahasa dalam berbagai seginya, yang dalam hal ini adalah budaya Arab dan Islam, di samping pola-pola budaya universal yang tidak bertentangan dengan Islam.
Kompetensi kebahasaan ini sesungguhnya merupakan manifestasi dari unsur ujaran (ashwat) dalam definisi bahasa menurut Ibnu Jinni di atas. Karena “ujaran” dalam perkembangannya bisa berupa lisan maupun tulisan. Dan untuk memahami ujaran dalam bentuk lisan membutuhkan kemahiran mendengar (istima’), agar ujaran lisannya baik membutuhkan kemahiran berbicara (kalam), sedangkan untuk memahami ujaran dalam bentuk tulisan dibutuhkan kemahiran membaca (qira’ah), dan agar tulisannya baik perlu kemahiran menulis (kitabah).
Di samping itu, secara substansial bahasa yang berupa ujaran itu terdiri dari susunan bunyi huruf-huruf (ashwat). Apabila satu bunyi huruf digabung dengan bunyi huruf lainnya, maka akan terjadi bunyi kata (mufradat). Dan ketika bunyi satu kata digabung dengan bunyi kata yang lain, maka terjadilah kalimat (kalam). Nah, dalam satu kalimat (kalam) ini pasti akan tersusun sebuah struktur yang disebut dengan tata bahasa (tarakib).
Kompetensi komunikatif dalam bahasa itu merupakan manifestasi dari unsur qaumun (komunitas) dalam definisi bahasa Ibnu Jinni. Sebab adanya suatu komunitas akan membutuhkan komunikasi. Maka bahasa menjadi alat terpenting dalam menjalin hubungan komunikasi di anatara individu-individu yang terdapat dalam komunitas tersebut.
Kompetensi kebudayaan merupakan manifestasi dari unsur aghradh (tujuan) dalam definisi bahasa di atas. Hal itu terjadi karena untuk menyampaikan sebuah pesan dalam komunitas tertentu tidak cukup hanya dengan menggunakan bahasa komunitas tersebut tanpa memperhatikan aspek kebudayaannya. Apabila itu terjadi, maka barang kali akan banyak terjadi kesalahpahaman (M. Abd Hamid, dkk. 2008).
Dari pengetahuan tentang definisi bahasa dan pandangan tentang kompetensi yang harus dimiliki para pembelajar bahasa, maka kita akan masuk dalam pembahasan strategi pembelajaran bahasa. Sebab ada keterkaitan yang sangat erat antara cara kita melihat bahasa itu sebagai apa dengan strategi pembelajaran yang akan kita gunakan.
Strategi Pembelajaran
Untuk mengetahui strategi dalam pembelajaran bahasa Arab tentu saja kita harus mengetahui dulu apa itu strategi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), strategi bermakna rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Di dalam proses pembelajaran bahasa pun guru harus memiliki strategi agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Salah satu unsur dalam stategi pembelajaran adalah menguasai teknik-teknik penyajian dan metode mengajar.
Kalau dilihat dari definisi di atas, maka “strategi” dalam pembelajaran bahasa merupakan rencana besar yang dirancang untuk mencapai tujuan suatu pembelajaran. Sedangkan cara untuk mencapai tujuan pembelajaran itu disebut dengan “metode”. Sementara langkah-langkah yang dilaksanakan guru di dalam kelas untuk membantu ketercapaian tujuan pembelajaran siswa sesuai metode yang dipilih disebut “teknik”.
Jadi, strategi pembelajaran merupakan rencana besar dan detail dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran siswa. Strategi ini diawali dengan penentuan corak “pendekatan” sebagai manifestasi dari tujuan pencapaian pembelajaran bahasa.
Adapun metode pembelajaran adalah cara atau jalan yang ditempuh oleh guru untuk meyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Metode yang digunakan guru bahasa Arab merupakan gambaran dari pendekatan yang dipilih (Syaiful Musthofa: 2011). Artinya pandangan guru terhadap bahasa Arab merupakan jenis pendekatan yang dianggap paling benar. Dengan demikian, metode pembelajaran sejatinya selaras dengan pendekatan yang dipilih.
Sebagai contoh, bagi yang memiliki pandangan bahwa bahasa itu adalah suatu kebiasaan (language is a hobbit). Pandangan ini dikenal dengan aliran structural, di mana teori tentang bahasa antara lain: (1) Bahasa itu pertama-tama adalah ujaran (lisan). (2) Kemampuan berbahasa diperoleh melalui kebiasaan yang ditunjang dengan latihan dan penguatan. (3) setiap bahasa memiliki sistemnya sendiri-sendiri berbeda-beda. (4) setiap bahasa memiliki system yang utuh dan lainnya (Linguis dan Swis Ferdinand De Saussure: 1857-1913). Maka metode yang dipilih adalah audiolingual (as-sam’iyah asy-syafahiyah) atau metode lain yang hampir sama dengan itu seperti direct method (thariqah mubasyarah).
Tetapi, bagi guru yang berpandangan bahwa bahasa adalah seperangkat struktur bahasa (seperti dalam pandangan aliran generative-transformatif). Yaitu kemapuan berbahasa menjadi dua: kompetensi dan performansi. Kompetensi adalah kemampuan ideal yang dimiliki oleh seorang penutur. Kompetensi menggambarkan pengetahuan tentang system bahasa yang sempurna, yakni tentang kalimat (sintaks), system kata (morfologi), system bunyi (fonologi) dan system makna (semantic). Sedangkan performasi adalah ujaran-ujaran yang bisa didengar atau dibaca, yang merupakan tuturan sesorang apa adanya tanpa dibuat-buat (Noam Chomsky: 1957). Maka metode yang paling relevan adalah metode an-nahwu wa al-tarjamah (gramatika-terjemah).
Sedangkan teknik pembelajaran itu adalah langkah-langkah konkret dalam kelas yang dapat berkembang dan dimodifikasi sedemikian rupa oleh guru, bergantung kepada kondisi dan situasi yang dibutuhkan saat pembelajaran berlangsung.
Metode Pembelajaran Bahasa
Berikut akan penulis paparkan maca-macam metode pembelajaran dalam bahasa Arab. Metode-metode itu penulis urutkan berdasarkan proses kemunculannya. Untuk sementara penulis kenalkan metode yang umum dikenal oleh guru dan pembelajar Bahasa Arab.
- METODE GRAMATIKA-TERJEMAH
Metode ini berdasarkan asumsi bahwa ada satu “logika semesta” yang merupakan dasar semua bahasa di dunia ini, dan bahwa tatabahasa merupakan bagian dari filsafat dan logika. Belajar bahasa dengan demikian dapat memperkuat kemampuan berpikir logis dan memecahkan masalah, dan menghafal (Efendi: 2005).
- Karakteristik
Metode Gramatika-Terjemah yang dalam Bahasa Arab disebut Thariqah al-Qawaid wa Tarjamah ini mempunyai karakter sebagai berikut:
- Tujuan mempelajari bahasa Arab adalah mampu membaca karya sastra bahasa Arab atau kitab klasik Arab.
- Materi pelajaran terdiri atas: buku nahwu, kamus atau daftar kata, dan teks bacaan.
- Tatabahasa disajikan secara deduktif, yakni dimulai dengan penyajian kaidah diikuti dengan contoh-contoh dan dijelaskan secara rinci dan panjang lebar.
- Kosa kata diberikan dalam bentuk kamus dwibahasa, atau daftar kosa kata beserta terjemahannya.
- Teks bacaan berupa karya sastra klasik atau kitab keagamaan klasik.
- Basis pembelajaran adalah penghafalan kaidah tata bahasa dan kosa kata, kemudian penerjemahan harfiah dari bahasa Arab ke Bahasa Indonesia.
- Bahasa Ibu pelajar digunakan sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar mengajar.
- Langkah-langkah Penyajian
- Guru memulai pelajaran dengan menjelaskan definisi butir-butir tata bahasa kemudian memberikan contoh-contohnya.
- Guru menuntun siswa menghafalkan daftar kosa kata dan terjemahnnya.
- Guru meminta siswa membuka buku teks bacaan kemudian menuntun siswa memahami isi bacaan dengan menerjemahkannya kata per kata atau kalimat per kalimat.
- METODE LANGSUNG
Metode ini dikembangkan atas dasar asumsi bahwa proses belajar bahasa kedua atau bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu, yaitu dengan penggunaan bahasa secara langsung dan intensif dalam komunikasi, dan dengan menyimak dan berbicara, sedangkan mengarang dan membaca dikembangkan kemudian (Efendi: 2005).
- Karakteristik
- Tujuan utamanya adalah penguasaan bahasa Arab secara lisan agar dapat berkomunikasi dalam bahasa Arab.
- Materi pelajaran berupa: buku teks yang berisi daftar kosa kata dan penggunaannya dalam kalimat. Kosa kata itu umumnya konkret dan ada di lingkungan siswa.
- Kaidah-kaidah bahasa diajarkan secara induktif, yaitu berangkat dari contoh-contoh kemudian diambil kesimpulan.
- Kata-kata konkret diajarkan melalui demonstrasi, peragaan benda langsung, dan gambar, sedangkan kata-kata abstrak melalui asosiasi, konteks dan definisi.
- Kemampuan komunikasi lisan dilatihkan secara cepat melalui Tanya jawab yang terencana dalam pola interaksi yang bervariasi.
- Kemampuan berbicara dan menyimak kedua-duanya dilatihkan.
- Guru dan siswa sama-sama aktif, tapi guru berperan memberikan stimulus berupa contoh ucapan, peragaan dan pertanyaan, sedangkan siswa hanya merespon dalam bentuk menirukan, menjawab pertanyaan, memeragakan dan lain sebagainya.
- Ketepatan pelafalan dan tata bahasa ditekankan.
- Bahasa Arab digunakan sebagai bahasa pengantar secara ketat dan bahasa ibu tidak digunakan sama sekali.
- Kelas diciptakan sebagai lingkungan bahasa Arab buatan, tempat siswa berlatih secara langsung.
- Langkah-langkah Penyajian
- Guru mulai penyajian materi secara lisan, mengucapkan satu kata dengan menunjuk bendanya atau gambar benda itu, memeragakan sebuah gerakan atau mimic wajah. Pelajar menirukan berkali-kali sampai benar pelafalannya dan faham maknanya.
- Latihan berikutnya berupa Tanya jawab dengan kata tanya: ما – هل – أين sesuai dengan tingkat kesulitan pelajaran.
- Setelah guru yakin bahwa siswa menguasai materi yang disajikan, baik dalam pelafalan maupun pemahaman makna, siswa diminta membuka buku teks.
- Kegiatan berikutnya adalah menjawab secara lisan pertanyaan atau latihan yang ada dalam buku, dilanjutkan dengan mengerjakan secara tertulis.
- Bacaan umum yang disesuuaikan dengan tingkatan siswa diberikan sebagai tambahan.
- Tatabahasa diberikan pada tingkat tertentu secara induktif.
- METODE QIRA’AH
Metode ini berdasarkan asumsi bahwa pengajaran bahasa tidak bisa bersifat multi-tujuan, dan bahwa kemampuan membaca adalah tujuan yang paling realistis ditinjau dari kebutuhan pembelajar bahasa asing (Efendi: 2005).
- Karakteristik
- Tujuan utamanya adalah kemahiran membaca, yaitu agar pelajar mampu memahami teks ilmiah untuk keperluan studi mereka.
- Materi pelajaran berupa buku bacaan utama dengan suplemen daftar kosa kata dan pertanyaan-pertanyaan isi bacaan, buku bacaan penunjang untuk perluasan (extensive reading/ قراءة موسعة).
- Basis kegiatan pembelajaran adalah memahami isi bacaan, didahului oleh pengenalan kosa kata pokok dan maknanya, kemudian mendiskusikan isi bacaan dengan bantuan guru.
- Membaca diam (silent reading/قراءة صامتة) lebih diutamakan daripada membaca keras (loud-reading/ قراءة جهرية).
- Kaidah bahasa diterangkan seperlunya tidak boleh kepanjangan.
- Langkah-langkah Penyajian
- Pelajaran dimulai dengan pemberian kosa kata dan istilah yang dianggap sulit dan penjelasan maknanya dengan definisi dan contoh dalam kalimat.
- Siswa membaca teks bacaan secara diam selama kurang lebih 25 menit.
- Diskusi mengenai isi bacaan dapat berupa Tanya-jawab dengan menggunakan bahasa ibu pelajar.
- Pembicaraan mengenai tata bahasa secara singkat kalau dianggap perlu.
- Pembahasan kosa kata yang belum dibahasa sebelumnya.
- Mengerjakan tugas-tugas yang ada dalam buku suplemen, yaitu menjawab pertanyaan tentang isi bacaan, latihan menulis terbimbing, dan lain sebagainya.
- Bahan bacaan perluasan dipelajari di rumah dan dilaporkan hasilnya pada pertemuan berikutnya.
- METODE AUDIOLINGUAL
Metode audiolingual didasarkan pada beberapa asumsi, antara lain bahwa bahasa itu pertama-tama adalah ujaran. Oleh karena itu pembelajaran bahasa harus dimulai dengan memperdengarkan bunyi bahasa dalam bentuk kata atau kalimat kemudian mengucapkannya, sebelum pelajaran membaca dan menulis (Efendi: 2005).
Asumsi lain dari metode ini ialah bahwa bahasa adalah kebiasaan. Suatu prilaku akan akan menjadi kebiasaan apabila diulang berkali-kali. Oleh karena itu pengajaran bahasa harus dilakukan dengan teknik pengulangan atau repetis.
- Karakteristik
- Tujuan pengajarannya adalah penguasaan empat keterampilan berbahasa secara beimbang.
- Urutan penyajiannya adalah menyimak dan berbicara baru kemudian membaca dan menulis.
- Model kalimat bahasa asing diberikan dalam bentuk percakapan untuk dihafalkan.
- Penguasaan pola kalimat dilakukan dengan latihan-latihan pola (pattern-practice). Latihan atau drill mengikuti urutan: stimulus à response à reinforcement.
- Kosa kata dibatasi secara ketat dan selalu dihubungkan dengan konteks kalimat atau ungkapan, bukan sebagai kata-kata lepas yang berdiri sendiri.
- Pengajaran system bunyisecara sistematis (berstruktur) agar dapat digunakan oleh pelajar, dengan teknik demonstrasi, peniruan, komparasi, kontras, dan lain-lain.
- Pelajaran menulis merupakan representasi dari pelajaran berbicara, dalam arti pelajaran menulis terdiri dari pola kalimat dan kosa kata yang sudah dipelajari secara lisan.
- Penerjemahan dihindari. Penggunaan bahasa ibu apabila sangat diperlukan untuk penjelasan , diperbolehkan secara terbatas.
- Gramatika (dalam arti ilmu) tidak diajarkan pada tahan permulaan. Apabila diperlukan pengajaran gramatika pada tahap tertentu hendaknya diajarkan secara induktif dan secara bertahap dari yang mudah ke yang sukar.
- Pemilihan materi ditekankan pada unit dan pola yang menunjukkan adanya perbedaan structural antara bahasa asing yang diajarkan dan bahasa ibu pelajar.
- Guru menjadi pusat dalam kegiatan kelas, siswa mengikuti (merespon) apa yang diperintahkan (stimulus) guru.
- Penggunaan bahan rekaman, laboratorium bahasa dan visual aids sangat dipentingkan.
- Langkah-langkah Penyajian
- Penyajian dialog atau bacaan pendek, dengan cara guru membacanya berulang kali, dan pelajar menyimak tanpa melihat teks.
- Peniruan dan penghafalan dialog atau bacaan pendek dengan teknik menirukan bacaan guru kalimat per kalimat secara klasikal.
- Dilakukan teknik dril atau penyajian pola-pola kalimat secara berulang-ulang terutama pada pola yang dianggap sukar.
- Dramatisasi dialog atau bacaan pendek yang sudah dilatihkan di depan kelas secara bergantian.
- Pembentukan kalimat-kalimat lain yang sesuai dengan pola kalimat yang sudah dipelajari.
- METODE KOMUNIKATIF
Metode komunikatif didasarkan pada asumsi bahwa setiap manusia memiliki kemampuan bawaan yang disebut dengan “alat pemerolehan bahasa” (language acquisition device). Oleh karena itu, kemampuan berbahasa bersifat kreatif dan lebih ditentukan oleh factor internal (Efendi: 2005).
- Karakteristik
- Tujuan pengajarannya adalah mengembangkan kompetensi pelajar berkomunikasi dengan bahasa target dalam konteks komunikatif yang sesungguhnya atau dalam situasi kehidupan yang nyata.
- Salah satu konsep yang mendasar dari metode ini adalah kebermaknaan dari setiap bentuk bahasa yang dipelajari dan keterkaitan bentuk, ragam, dan makna bahasa dengan situasi dan konteks berbahasa itu.
- Dalam proses belajar mengajar, siswa bertindak sebagai komunikator yang berperan aktif dalam aktivitas komunikatif yang sesungguhnya. Sedangkan pengajar memprakarsai dan merancang berbagai pola interaksi antar siswa, dan berperan sebagai fasilitator.
- Aktivitas dalam kelas diwarnai secara nyata dan dominan oleh kegiatan-kegiatan komunikatif, bukan dril-dril manipulative dan peniruan-peniruan tanpa makna.
- Materi yang disajikan bervariasi, tidak hanya mengandalkan buku teks, tapi lebih ditekankan pada bahan-bahan otentik (berita Koran, iklan, menu, KTP, SIM, Formulir dan sejenisnya).
- Penggunaan bahasa ibu dalam kelas tidak dilarang tapi diminimalisasi.
- Kesilapan siswa ditoleransi untuk mendorong keberanian siswa berkomunikasi.
- Langkah-langkah Penyajian
- Dialog pendek disajikan dengan didahului penjelasan tentang fungsi-fungsi ungkapan dalam dialog itu dan situasi di mana dialog itu mungkin terjadi.
- Latihan mengucapkan kalimat-kalimat pokok secara perorangan, kelompok atau klasikal.
- Pertanyaan diajukan tentang isi dan situasi dalam dialog itu, dilanjutkan dengan pertanyaan serupa tetapi langsung mengenai situasi masing-masing pelajar. Di sini kegiatan komunikatif yang sebenarnya dimulai..
- Kelas membahas ungkapan-ungkapan komunikatif dalam dialog.
- Siswa diharapkan menarik kesimpulan sendiri tentang atauran tata bahasa yang termuat dalam dialog. Guru memfasilitasi dan meluruskan apabila terjadi kesalahan dan penyimpangan.
- METODE EKLEKTIK
Metode eklektik ini adalah metode gabungan dari beberapa metode yang tujuannya tidak bertolak belakang. Karena setiap metode memiliki sisi keistimewaan dan kelemahan masing-masing. Sebuah metode lahir karena ketidakpuasan terhadap metode lain sebelumnya, tapi pada waktu yang sama metode baru tersebut terjebak ke dalam kelemahan yang dahulu merupakan penyebab dari lahirnya metode yang dikritiknya itu. Sementara itu, pengajaran bahasa Arab menghadapi kondisi objektif yang berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat yang lainnya. Kondisi objektif itu meliputi tujuan, keadaan guru, keadaan siswa, sarana prasarana dan lain sebagainya.
Metode eklektik ini didasarkan pada asumsi bahwa (1) tidak ada metode yang ideal karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, (2) setiap metode mempunyai kekuatan yang dapat digunakan untuk mengefektifkan pembelajaran, (3) lahirnya metode baru harusnya dilihat sebagai penyempurna bukan sebagai penolakan terhadap metode sebelumnya, (4) tidak ada satu metode yang cocok untuk semua tujuan, semua guru, semua siswa dan semua program pengajaran, (5) setiap guru memiliki kewenangan dan kebebasan untuk memilih metode yang sesuai dengan kebutuhan pelajar.
Penutup
Dari paparan singkat di atas, kita ketahui bahwa setiap metode itu pasti memiliki landasan asumsi masing-masing. Landasan asumsi itu berangkat dari sebuah pendekatan atau pandangan secara khusus terhadap pembelajaran bahasa. Sedangkan langkah-langkah peyajian yang terdapat dalam setiap metode itu dapat kita katakana sebagai teknik pembelajaran. Meskipun demikian, teknik-teknik tersebut masih sangat umum, sedangkan teknik-teknik khusus yang terkait dengan tema dan bahasan tertentu sangat banyak dan beragam. Bahkan, masing-masing guru bahasa Arab memilki teknik yang berbeda-beda meskipun metode yang dipakai sama.
Maka sejauh teknik yang digunakan itu efektif dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan, guru bebas untuk memilhnya. Karena pada hakikatnya, tidak ada metode yang paling baik. Semua metode itu baik dan sangat berguna. Yang tepat adalah metode yang efektif untuk mencapai tujuan dari pembelajaran yang diinginkan.
Oleh karena itu, guru yang baik adalah guru yang sangat detail menjabarkan keinginannya dalam bentuk tujuan pembelajaran, tujuan pembelajaran ini merupakan pandangan guru terhadap akhir dari pembelajaran siswa. Tujuan ini biasanya juga akan memudahkan untuk menentukan pendekatan apa yang relevan dalam pembelajaran bahasa Arab. Dan apabila pendekatannya sudah ditentukan, maka sederet metode sudah dapat disingkronkan guna mendapatkan hasil yang terbaik dalam pembelajaran Bahasa Arab.
Daftar Bacaan:
Effendy, Ahmad Fuad. “Metodologi Pengajaran Bahasa Arab.” Malang: Misykat, 2005.
Hamid, Abdul, Uril Baharuddin, and Bisri Mustofa. Pembelajaran Bahasa Arab Pendekatan, Metode, Strategi, Materi Dan Media. Malang: UIN-Malang Press, 2008.
Jinni, Ibnu. Al-Khashaish. Kairo: Daar al-Kutub al-Mishriyyah, 1956.
Mustofa, Syaiful. “Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Inovatif.” Cet. I, 2011.
Nasional, Departemen Pendidikan. “Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa-4/E.,” 2008.
الÙوزان, عبد الرØمن بن إبراهيم, مختار الطاهر Øسين, and Ù…Øمد عبد الخالق Ù…Øمد Ùضل. “العربية بين يديك كتاب الطالب-ج1,” 2007.