‘AMMIYAH ARABIC LEARNING: REVITALISASI BAHASA ARAB SEBAGAI PIRANTI BAHASA KOMUNIKASI
- Diposting Oleh Admin Web PBA
- Selasa, 9 Januari 2024
- Dilihat 875 Kali
Oleh: Uyun Thayyibah
(Mahasiswa Prodi PBA Institut Agama Islam Negeri Madura)
PENDAHULUAN
Bahasa Arab informal tidak bisa dikesampingkan dalam pembelajaran bahasa Arab. (Yun Eun-Kyong) Dewasa ini, belajar bahasa Arab fushah dirasa tidak cukup untuk berkomunikasi dengan nathiq asli, utamanya ketika kita hidup di tengah masyarakat Arab. Seseorang akan mengalami kesulitan komunikasi verbal tanpa menguasai bahasa Arab ‘Ammiyah (bahasa Arab pergaulan/pasaran) bahasa komunikasi sehari-hari yang sudah menjadi bagian inheren dalam kehidupan orang Arab secara umum.
Secara garis besar penggunaan bahasa Arab dibedakan menjadi dua bagian, bahasa Arab fushah (formal) dan ammiyah (informal). Tidak dapat dipungkiri bahwasanya dalam masyarakat Arab terdapat perbedaan bahasa yaitu antara lughat al-hadis dan lughat al-kitabah/lughat al-adab. Selanjutnya, yang dimaksud lughat al-hadis adalah bahasa Arab ‘Ammiyah. Adapun ‘Ammiyah berasal dari kata (‘ammah) umum yang merupakan lawan kata dari (khas) khusus, yaitu bahasa yang digunakan untuk komunikasi sehari-hari. Sementara lughat al-kitabah ialah bahasa Arab Fushah, kata fushah itu sendiri berasal dari bentuk isim tafdil yakni fashahah yang bermakna jelas (al-bayan) dan terpeliharanya kata dari kesamaran dan susunan yang buruk (salamat al alfadzh min al-ibham wa sui al-ta’lif), dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa bahasa ini merupakan bahasa paling baik dan terpelihara. (Hasnah, 2019) Akan tetapi oleh masyarakat Arab bahasa ini hanya digunakan untuk kepentingan tertentu seperti literatur ilmiah, media massa atau koran, majalah, kemudian juga digunakan untuk kepentingan hukum dan pemerintahan, puisi dan narasi, pidato, pembelajaran dan pertemuan-pertemuan ilmiah. (Wafi, 2004: 119)
Terdapat beberapa kasus yang dapat mendorong pembelajaran bahasa Arab Ammiyah menjadi penting: seperti kasus yang dialami zahid samosir, konten kreator sekaligus mahasiswa Al Azhar Mesir lewat kanal tiktoknya @zahidsamosir ia menyatakan betapa pentingnya belajar bahasa arab ammiyah setelah ia ditertawakan semua orang kala menggunakan bahasa fushah saat melakukan transaksi jual beli dengan orang arab asli. Begitupun fakta empiris yang dirasakan oleh penulis, ketika berbicara dengan TKW yang pulang dari timur tengah. Hampir semua TKW yang penulis temui tidak ada yang bisa berbahasa Arab Fushah karena bahasa komunikasi yang digunakan adalah bahasa Ammiyah, hal ini menunjukkan bahwasanya belajar bahasa Arab Ammiyah sangat dibutuhkan dalam dunia ketenagakerjaan.
Berbeda dengan bahasa Arab fushah yang dikuasai oleh kalangan tertentu saja dan bahasa ini dipadankan dengan bahasa Indonesia EYD yang digunakan dalam keadaan tertentu. Menurut golongan pendukung bahasa Arab ‘ammiyah, terdapat faktor yang menjadikannya harus dipelajari, dilihat dari kenyataannya bahasa ini memiliki struktur sederhana dan mudah dipahami serta jenis bahasa ini dinilai paling dekat dengan masyarakat. (Hasnah, 2019)
Dibandingkan bahasa fushah, bahasa Ammiyah lebih sering digunakan di beberapa negara Arab seperti Arab Saudi dan Mesir. Hampir semua tayangan film dan televisi menggunakan jenis bahasa ini, tak dapat dipungkiri pula digunakan dalam pidato dan ceramah bahkan merambah ke dunia akademik dalam perkuliahanpun hampir 80% bahasa ini digunakan. (Saif, 2020:55)
Selain itu, minat belajar masyarakat Indonesia terhadap bahasa Arab masih terbilang minim dibanding bahasa asing lainnya. Berdasarkan kajian Faisal Mubarak Seff, terdapat (65%) pelajar tidak berminat untuk mempelajari bahasa Arab bahkan dijadikan mata pelajaran yang paling tidak diminati, dari hasil penelitiannya terhadap pelajar madrasah aliyah di tiga kabupaten kota.
Menurut hemat penulis sejauh ini, masyarakat indonesia hanya mempelajari bahasa Arab fushah maka, tidak diherankan apabila bahasa arab yang dikenal oleh masyarakat kita hanyalah sebagai lughat al-kitabah (bahasa literarur keislaman) dan selalu diidentikkan dengan bahasa keagamaan saja, padahal bahasa Arab juga digunakan sebagai bahasa komunikasi baik sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan serta menjadi bahasa internasional. Oleh karena itu, Revitalisasi bahasa Arab sebagai piranti bahasa komunikasi dapat dilakukan dengan pembelajaran bahasa Ammiyah.
Yun Eun-Kyong dalam tulisannya yang berjudul “Developing Communicative Competence in Spoken Arabic: A Survey of Korean University Students” juga sepakat akan pentingnya pembelajaran bahasa Arab informal. Bagi Mahasiswa di Korea pembelajaran bahasa formal tidak dirasa cukup sebagai landasan membangun komunikasi dan interaksi dengan penutur asli. Dari penelitian Yun terdapat 57,8% mahasiswa korea yang mempelajari bahasa Arab menyatakan sangat setuju mempelajari bahasa Arab informal untuk berkomunikasi. Sementara 43,3% menyatakan sangat setuju karena merasa sangat butuh pembelajaran bahasa informal. Mereka berpendapat demikian karena 78,9% dari mereka pernah terjun langsung ke daerah Arab dan berkomunikasi dengan penutur asli. Oleh karena itu, dibentuklah ide berupa program kecakapan berbahasa Arab yang solutif dan inovatif yaitu ‘Ammiyah Arabic Learning.
PEMBAHASAN
‘Ammiyah Arabic Learning merupakan sebuah program revitalisasi bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi yang digagas dengan memodifikasi sistem pembelajarannya. Revitalisasi dan modifikasi yang dimaksud adalah dengan cara menambahkan pembelajaran bahasa Arab ‘ammiyah atau juga dikenal sebagai bahasa Arab pergaulan ke dalam pembelajaran bahasa Arab dengan tanpa mengkesampingkan bahasa Arab fushah. Program ini ditujukan kepada pembelajar bahasa Arab yang sudah menguasai bahasa fushah atau pembelajar yang sudah di tingkatan mutaqaddim termasuk diantaranya mahasiswa bahasa Arab, dengan tujuan untuk meminimalisir terjadinya interfensi bahasa antara fushah dan ‘ammiyah.
Kemudian orientasi dari program ini adalah mengoptimalkan penguasaan bahasa Arab sebagai piranti komunikasi, agar pembelajar bahasa Arab mudah membangun relasi dan interaksi ketika dihadapkan dengan penutur asli. Hal ini berlandaskan pembahasan yang telah lalu bahwasanya masyarakat Arab menggunakan bahasa ‘ammiyah untuk komunikasi sehari-hari dan penggunaan bahasa Arab fushah tidak dirasa cukup karena hanya digunakan oleh kalangan tertentu atau kondisi tertentu saja. Selain itu, program ini dapat membantu membuka prospek lapangan pekerjaan di timur tengah pada semua aspek sebab bahasa ‘ammiyah digunakan oleh masyarakat Arab hampir di semua elemen kehidupan. Selanjutnya, dari program ini pembelajar dapat melihat ragam perbedaan linguistik antara dua bahasa yaitu bahasa Arab fushah dan bahasa Arab ‘ammiyah.
Model program ‘ammiyah arabic learning ialah dengan mengkolaborasikan bahasa arab fushah dan ‘ammiyah dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Dalam program ini, bahasa Arab ‘ammiyah yang dipelajari adalah ‘ammiyah Saudi Arabiya dan Mesir karena pada umumnya bahasa ini mendominasi bahasa pergaulan dan dipahami oleh sebagian besar masyarakat di negara Arab. Gambaran umum dari program ini, dengan membagi bi’ah lughawiyah (lingkungan berbahasa) menjadi dua bagian yaitu lingkungan formal dan lingkungan informal. Lingkungan belajar bahasa yang bersifat formal menitikberatkan pada penguasaan secara sadar terhadap kaidah maupun aturan bahasa Arab, sementara lingkungan belajar yang bersifat informal memfokuskan pada penguasaan bahasa Arab dari pikir alam bawah sadar melalui interaksi yang berupa komunikasi dengan lawan bicara yang menggunakan bahasa Arab pula. Dengan rincian lingkungan formal seperti sekolah maupun perkuliahan menerapkan bahasa Arab fushah sementara lingkungan informal seperti percakapan kegiatan sehari-hari menggunakan bahasa Arab ‘ammiyah, demi mengoptimalkan kemampuan komunikasi pembelajar. Berikut gambaran umum dari program ini:
Terdapat dua model program yang diajukan. Pertama al-arabiyah lilaghradh al-ammah atau bahasa Arab untuk tujuan umum, dengan pengertian lain belajar bahasa bukan karena ada tujuan tertentu hanya saja agar bisa melakukan percakapan dengan penutur asli. Selanjutnya realisasi dari model ini, dilaksanakan ketika berlangsungnya bi’ah lughawiyah (lingkungan berbahasa) yang bersifat informal lebih tepatnya, dalam kegiatan sehari-hari. Bi’ah lughawiyah sudah banyak diterapkan di berbagai pondok pesantren dan lembaga pendidikan lainnya seperti madrasah-madrasah hingga perguruan tinggi. Penerapannya dinilai efektif untuk menunjang kemahiran berbahasa utamanya dalam meningkatkan keterampilan berbicara (maharatul kalam).
Model kedua al-arabiyah lil aghradh al-khasshah (bahasa Arab untuk tujuan khusus) dalam model ini, pembelajar memilih belajar bahasa ammiyah sesuai bidang yang diinginkan namun tidak menafikkan penguasaan bahasa ‘ammiyah untuk kebutuhan sehari-hari. Terdapat beberapa bidang pembelajaran seperti bidang diplomasi, perdagangan, guide wisata, penerjemah dan lain sebagainya. Mekanisme dari model ini, dimulai dengan mengelompokkan para pembelajar ke dalam masing-masing bidang yang diminati, kemudian dari setiap kelompok bidang bekerja sama untuk saling mengembangkan kemampuan berbahasa dengan sering melatih muhadastah (percakapan) sesama anggota kelompok.
Berbeda dengan model pertama yang diterapkan sepanjang waktu, model ini diperuntukkan hanya pada beberapa waktu tertentu yang dibutuhkan oleh pembelajar dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, semisal dalam seminggu program model ini dilaksanakan sebanyak tiga atau empat kali disesuaikan dengan kesepakatan antar anggota kelompok. Untuk menunjang keberhasilan dari model ini, pembelajar dapat menggunakan beberapa media seperti, gambar, buku bacaan, dan benda yang dapat dijadikan bahan melatih kecapakan berbicara pembelajar sesuai bidang masing-masing. Selanjutnya pembelajar juga dapat menambah wawasan dengan cara sering melatih kemahiran mendengar melalui audio maupun menonton vidio yang berisi percakapan penutur asli. Berikut gambaran secara umum dari dua model yang diajukan:
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan, program ini dapat menjadi solusi yang solutif untuk mengatasi kesulitan komunikasi dengan penutur asli bagi para pembelajar bahasa Arab dengan cara mengoptimalkan penggunaan bahasa Arab ‘ammiyah sebagai piranti komunikasi melalui dua model inovatif yang diajukan.
Selanjutnya para kaum akedimisi disarankan untuk mengkaji program ini lebih lanjut, demi memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab di negara kita Indonesia.
Belajar bahasa Arab Ammiyah bukanlah hal yang harus dikesampingkan dari pembelajaran bahasa Arab, karenadewasa ini, fakta empiris menyatakan bahwasanya bahasa Arab Ammiyah menjadi bagian inheren dalam komunikasi orang Arab asli dan menjadi tuntutan bagi pembelajar bahasa Arab untuk menguasainya.
DAFTAR PUSTAKA
Hasnah, Yetti. 2019.Bahasa Arab Standar Antara ‘Ammiyah dan Fushah. Al-Fathin, Vol. 2.
Wafi, ‘Ali ‘Abdul al-Wahid. Fiqh al-Lughah. Kairo: Nahtah Misr. 2004.
Seff, Faisal Mubarak. Dinamika Pendidikan Bahasa Arab di Indonesia dalam Konteks Persaingan Global. Banjarmasin: IAIN Antasari Press. 2019.
Yun, Eun-Kyong. 2018. Developing Communicative Competence in Spoken Arabic: A Survey of Korean University Students. The New Educational Review. Vol. 52. DOI Address: http://dx.doi.org/10.15804/tner.2018.52.2.18.