ENGAGAMENT RATE SEBAGAI UPAYA MENINGKATKANAN KUALITAS KONTEN BAHASA ARAB DI ERA DIGITAL
- Diposting Oleh Admin Web PBA
- Rabu, 10 Januari 2024
- Dilihat 680 Kali
Oleh: Nuri Alvina
(Mahasiswa Prodi PBA Institut Agama Islam Negeri Madura)
Bahasa Arab memang bukan hanya untuk kegiatan keagamaan. Tetapi juga digunakan untuk kepentingan politik dan pemerintahan, perdagangan, negosiasi dan kerjasama antar”bangsa”, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Namun demikian, jika dibandingkan dengan bahasa Inggris yang terkesan lebih baik, mengapa bahasa Arab tampaknya termagjinalkan oleh arus globalisasi.
Sebuah penelitian oleh world Stats pada tahun 2020 merilis pengguna internet terbanyak di dunia berdasarkan bahasa. Data tersebut juga diunggah oleh UNESCO pada tanggal 14 januari 2022, bahwa pengguna internet dengan bahasa Inggris adalah paling banyak digunakan, sebesar 25,9%, kemudian pengguna internet bahasa China menempati urutan kedua dengan 19,4%. Menyusul posisi ketiga, ada bahasa Spanyol dengan 7,9%. Sementara pengguna internet dengan bahasa Arab menempati posisi keempat dengan 5,2%. Dari data pengguna internet di atas menunjukkan bahwa saat ini bahasa Arab kalah pamor dengan bahasa lainnya, terutama bahasa Inggris yang menduduki posisi pertama di dunia.
Dr. Nurul Hadi, M.Pd juga pernah menyampaikan dalam seminarnya pada 19 Desember 2022 bahwasannya realita bahasa Arab saat ini adalah “Persentase konten digital bahasa Arab tidak melebihi 3% di internet.
Adapun saat ini kita sudah berada di era digital. Di mana semua aktivitas bisa dilakukan menggunakan teknologi canggih dan internet kapan saja serta di mana saja. Oleh karena itu. Untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap bahasa Arab juga harus dilakukan menggunakan internet di berbagai media sosial agar bahasa Arab tetap eksis di seluruh dunia. Dengan adanya media sosial dapat dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan keterampilan berbahasa Arab karena cukup praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari para siswa. Di antara media sosial yang bisa digunakan untuk pembelajaran bahasa Arab adalah Instagram, Whatsapp, dan TikTok.
Salah satu cara untuk menarik minat masyarakat di era digital terhadap bahasa Arab adalah pembuatan konten yang menarik dan berkualitas serta mengikuti trend masa kini.
Untuk melihat apakah konten bahasa Arab yang dibuat sudah mampu menarik minat masyarakat atau tidaknya perlu adanya evaluasi terhadap konten-konten tersebut digunakanlah metode “Online Engagement”. Falls (2012) menyatakan bahwa engagement is communicating well enough that the audience pays attention, sederhananya engagement merupakan komunikasi yang baik dimana audience memberikan perhatian. Apabila dikaitkan dengan konten di berbagai media sosial, engagement bisa diartikan sebagai alat atau indicator untuk mengukur jumlah interaksi yang diperoleh dari audiens mengenai konten bahasa Arab tersebut. Adanya metode ini dapat membantu pembuat konten bahasa Arab untuk meningkatkan kualitas kontennya.
Dalam media sosial, umpan balik, respon, atau perhatian itu merupakan nyawa layanan yang bisa disamakan dalam bentuk fitur respon, seperti ruang komentar (comment), tanda suka (like), atau pilihan menyebarkan konten (share). Fitur-fitur itulah yang akan diperhitungkan dalam metode engagement rate.
Untuk meningkatkan kualitas konten bahasa Arab agar lebih menarik tentunya ada beberapa indikator untuk menunjang minat masyarakat terhadap konten tersebut. Mulai dari bentuk konten berupa foto atau video maupun caption dan faktor pendukung lainnya dari konten itu. Berikut ini beberapa faktor pendukung dalam membuat konten yang menarik:
a. Kamera
Penggunaan kamera dengan kualitas hasil foto dan video yang bagus serta jernih dapat mempengaruhi terhadap hasil konten yang dibuat. Sehingga masyarakat akan tertarik pada kontennya.
b. Caption (keterangan foto atau video)
Keterangan foto (caption) merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai foto dalam bentuk teks. Dalam caption tersebut pengguna dapat menyebutkan (mention) pengguna lain atau menambahkan has tag. Dalam pembuatan caption juga harus dipertimbangkan dengan baik. Sekiranya bisa memberikan stimulus atau rangsangan agar orang tertarik untuk melihat dan memberikan like pada konten tersebut.
c. Waktu Post Konten
Indonesia’s Digital Consumer Behavior Report 2016 yang dilaporkan DSid membagi zona waktu aktif di social media menjadi 4, antara lain sebagai berikut:
- 06.00-10.00 (11%)
- 10.00-14.00 (14%)
- 14.00-18.00 (10%)
- >18.00 (65%)
Dari data tersebut menunjukkan bahwa pengguna social media paling banyak aktif yaitu setelah pukul 18.00. Indonesia’s Digital Consumer Behavior Report 2016 juga menyebutkan bahwa break = social media time, artinya ketika seseorang sedang istirahat, maka akan cenderung membuka social media, oleh sebab itu pada data tersebut waktu teraktif adalah setelah pukul 18.00, karena pada jam itu mayoritas pelajar/mahasiswa dan para pekerja sudah menyelesaikan aktivitas dan kesibukannya dari pagi sampai sore hari. Oleh karena itu, penting juga untuk memerhatikan waktu dalam menggunggah konten bahasa Arab jika ingin banyak yang melihat dan menanggapinya.
d. Isi Konten (Materi)
Isi konten yang tidak baik dan tak menarik, maka bisa dikatakan konten tersebut gagal. Sebagai pembuat konten ada baiknya apabila dapat menampilkan isi yang benar-benar menawan. Buatlah isi konten yang dibuat sebaik mungkin yang berhubungan dengan tujuan kita dalam membuat konten bahasa Arab yang bisa memberikan hiburan dan manfaat bagi peminatnya serta bisa dipahami maksud yang ingin disampaikan oleh konten kreator.
Memperhatikan isi konten yang akan dibuat sangatlah penting agar orientasi dari pembuatan konten bahasa Arab tidak melenceng. Semisal, jika konten bahasa Arab kita ditujukan untuk membantu pembelajaran bahasa Arab, maka isi kontennya juga sebaiknya berisikan strategi pembelajaran bahasa Arab, media pembelajaran bahasa Arab, perangkat pembelajaran bahasa Arab dan metode pembelajaran bahasa Arab dan lain sebagainya. Jika konten bahasa Arab kita diarahkan untuk tujuan komunikasi, maka pembuatan isi kontennya juga berkaitan dengan kosa kata yang sering digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari baik dengan orang Arab asli maupun non Arab. Oleh karena itu, sebelum membuat akun tentang bahasa Arab, alangkah lebih baik apabila menentukan tujuan dan ranah konten bahasa Arab serta target yang ingin dicapai.
Selain dari pada faktor di atas pemilihan dan pembuatan konten yang inspiratif dan menghibur, pemberian reward atau giveaway kepada pengikut, serta mengikuti trend masa kini juga sangat mempengaruhi untuk membuat konten yang menarik bagi seluruh kalangan masyarakat.
Beberapa faktor di atas bisa memberikan pengaruh pada hasil engagement rate nantinya. Oleh karena itu untuk mendapatkan nilai persentase engagement rate yang baik, perlu peningkatan kualitas konten yang menarik juga agar mampu menarik minat seluruh kalangan masyarakat. Itulah mengapa metode engagement rate menurut penulis sangat cocok digunakan sebagai upaya meningkatkan kualitas konten bahasa Arab.
Engagement Rate (ER) adalah proporsi dari aksi yang dilakukan oleh audiens yang menerima iklan dari jumlah iklan yang tampil (Tikno, 2017). Menurut jurnal CRM yang ditulis oleh Tikno (2017), semakin tinggi Engagement Rate di dalam sebuah iklan, maka semakin memberikan keuntungan terhadap pengiklan dengan mempertimbangkan biaya pengeluaran, jumlah audiens yang telah melihat, dan potensi kenaikan terhadap transaksi yang mereka punya nantinya. Jika kita kaitkan dengan pembuatan konten bahasa Arab, Engagement rate adalah skala untuk mengukur seberapa besar interaksi yang diperoleh pembuat konten dengan audien (penikmat konten bahasa Arab).
Dengan kata lain, konten bisa disebut sebagai sebuah iklan untuk menarik minat masyarakat terhadap bahasa Arab yang posisinya sekarang berada pada urutan bahasa keempat dari pengguna sosial media di seluruh dunia. Adapun rumus mencari Engagement Rate, dalam jurnal Tikno (2017) adalah sebagai berikut:
E = A / R
Dengan keterangan:
E = Engagement Rate
A = Action
R = Reach
Action
Di dalam konteks pengiklanan action atau aksi merupakan sebuah perlakuan yang dilakukan oleh audien (Tikno, 2017). Perlakuan yang dimaksud dapat berupa mereka yang memberikan komentar, melakukan klik, memberikan like, membagikannya kepada pengguna lain, ataupun melakukan subscribe terhadap konten bahasa Arab tersebut. (Tikno, 2017).
Reach
Menurut jurnal Tikno (2017), reach merupakan kuantitas dari audien yang telah melihat iklan yang telah disebar. Dan pendapat yang sama juga didukung oleh penjelasan yang diberikan oleh Facebook sendiri, dimana reach merupakan kuantitas dari audien yang telah melihat iklan yang telah disebar setidaknya satu kali pada iklan tersebut (Facebook.com, 2019). Perbedaan mendasar antara reach dan impression adalah jumlah frekuensi dari pengguna untuk melihat iklan (Facebook.com,2019). Dengan kata lain reach adalah jumlah audien melihat iklan atau konten tersebut.
Untuk mempermudah pembaca untuk menggunakan metode ini dalam upaya pengembangan kualitas konten bahasa Arabnya, penulis akan memberikan satu contoh perhitungan engagement rate pada salah satu konten bahasa Arab di TikTok.
Contoh: salah satu konten TikTok pada akun @hayfaacademy mendapat 6,8M penonton. Konten tersebut menarik karena berkaitan dengan artis terkenal Fadil Jaidi yang ternyata jago bahasa Arab Ketika sedang melaksanakan Umroh. Dengan jumlah like 483,5K, komentar sebanyak 2043, dan 710 jumlah yang membagikan video tersebut. Maka cara kita menghitung engagement rate pada konten tersebut sebagai berikut: E = like (suka) / penonton, 483,5K/6,8M= 7,11% (dipersenkan). Selain daripada akun di atas, masih banyak lagi akun-akun tentang bahasa Arab di berbagai media sosial yang juga rekomendasi untuk diikuti serta dijadikan contoh untuk membuat konten bahasa Arab lebih baik dan memberikan manfaat. Seperti halmya: @alalzharcenterpare, @arabiyahtalks, @uslubarabi.id, @muslikhin_m dan lain sebagainya.
Berikut ini hal-hal yang akan diperhitungkan dalam penggunaan metode engagement rate pada sosial media:
a. Like (tanda suka)
Fitur ini digunakan untuk merespon foto atau video yang diunggah pengguna lain dengan cara menekan gambar hati atau jempol atau melakukan double klik pada foto dan video. Fitur like ini menandakan bahwa seseorang suka atau tertarik dengan foto atau video yang diunggah pengguna lain. Dari fitur ini bisa kita lihat jumlah pengguna lain yang tertarik pada konten bahasa Arab tersebut.
b. Comment (komentar)
Fitur ini memungkinkan pengguna untuk merespon foto atau video pengguna lain dengan cara berkomentar atau memberikan pendapat tentang foto atau video tersebut. Dengan adanya fitur ini pengguna juga bisa melihat respon dari pengguna lain berupa tanggapan positif atau negatif. Dan terkadang tak jarang dari para pengguna lain memberikan saran untuk konten tersebut agar lebih baik.
c. Share (bagikan)
Fitur ini memungkinkan pengguna untuk membagikan sebuah post kepada seseorang atau lebih pengguna lain. Dengan begitu menandakan bahwa konten tersebut menarik untuk dibagi dengan pengguna lain. Semakin banyak pengguna yang meng-share kontennya, maka semakin tinggi nilai engagement rate dari konten yang dibuat.
Seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa metode engagement rate adalah sebuah alat (matriks) untuk mengukur sejauh mana interaksi antara audien terhadap konten bahasa Arab yang telah dibuat di berbagai sosial media. Dan cara menghitungnya juga sudah dijelaskan secara sederhana dengan contohnya.
Hal-hal yang penting dan perlu diperhatikan dalam pembuatan konten yang menarik dan penggunaan metode ini juga telah disebutkan oleh penulis. Adanya metode engagement rate ini, para pembuat konten bahasa Arab bisa terus mengembangkan kualitas kontennya agar tetap eksis di berbagai sosial media, karena semakin tinggi nilai engagement rate-nya, maka menunjukkan bahwa konten tersebut semakin baik dalam menarik minat masyarakat terhadap bahasa Arab.
Jika nilai engagement rate-nya menurun maka kualitas kontennya juga menurun karena tidak bisa menarik minat masyarakat pada kontennya. Dengan begitu para pembuat konten bahasa Arab akan terus bersaing dan semangat dalam membuat konten bahasa Arab yang lebih baik dan bagus lagi untuk kedepannya.
Hasil dari penggunaan metode ini tentunya tidak hanya dirasakan oleh pembuat konten bahasa Arab tersebut tetapi juga dirasakan oleh seluruh audien yang menjadi penikmat konten tersebut. Pembuat konten akan terus mengasah kemampuannya untuk membuat konten-konten yang lebih kreatif dan menarik lagi dan audien akan mendapatkan ilmu pengetahuan tentang bahasa Arab melalui konten yang menarik sehingga menambah semangat belajar mereka akan bahasa Arab.
Lebih dari pada itu, metode ini juga akan memberikan kesempatan kepada bahasa Arab agar mampu bersaing dengan bahasa-bahasa yang lain di kancah Internasional, khususnya bahasa Inggris yang memiliki peminat paling banyak di seluruh dunia. Bahasa Arab akan lebih di kenal oleh seluruh kalangan masyarakat, dan bukan hanya bagi mereka yang beragama Islam, tetapi juga bagi seluruh masyarakat yang ingin belajar bahasa Arab sebagai salah satu bahasa Internasional. Karena bahasa Arab bukan hanya sebagai identitas dari sebuah agama, tetapi juga sebagai sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban serta kajian studi penelitian untuk terus dikaji dan dikaji agar tidak tergerus oreh zaman.
Mari, kita jadikan bahasa Arab bahasa yang mendunia, karena ia sangat istimewa untuk dicinta. Dan di dampa oleh penduduk surga.
DAFTAR PUSTAKA
Zulfikar, Fahri. 2022. Daftar Pengguna Internet Terbanyak Berdasarkan Bahasa, Indonesia Peringkat? https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5905617/daftar-pengguna-internet-terbanyak-berdasarkan-bahasa-indonesia-peringkat. (18 Januari 2023). Jakarta: detikEdu.
Kurniati, Depi. 2022. Penggunaan Media Sosial dalam Pembelajaran Bahasa Arab dengan Model Blended Learning. Palembang: Journal of Arabic Education & Arabic Studies.
Kusumasari, Paulina Wahyu. 2018. Peran Online Engagement pada Pengaruh Tipe Post dan Waktu Post di Instagram terhadap Minat Beli. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Damastuti, Riski dan Fransiska Regina Felin Siporay. 2022. Analisis Isi Konten Post Akun Instagram @Menantea. Toko dalam Membangun Engagement Followers. Yogyakarta: COMMUNIQUE.
Koswara, Aang DKK. t.t.. Pengembangan Model Revitalisasi Akun Media Sosial Resmi di Lingkungan Kepolisian Daerah (POLDA) Jawa Barat. Jawa Barat: t.t..