Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 322551

Email

pba@iainmadura.ac.id

JIHAD SANTRI: GOLDEN GENERATION MENGATASI SIKAP INDIVIDUALISME MASYARAKAT INDONESIA DI ERA TRANSFORMASI DIGITAL

  • Diposting Oleh Admin Web PBA
  • Sabtu, 27 Januari 2024
  • Dilihat 17036 Kali
Bagikan ke

Oleh: Naqi’ah*

Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia bukan hanya sekedar kata-kata dalam konstitusi, tetapi juga sebagai prinsip dan pedoman bagi setiap warga Negara. Burung Garuda yang menjadi lambang Negara dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika “berbeda-beda tetapi tetap satu” merupakan pengingat bagi  calon generasi masa depan untuk tidak melupakan pijakan dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahwasanya keragaman budaya, suku, ras dan agama tidak menjadi penghalang untuk bersatunya Bangsa Indonesia. Namun pada era transformasi digital ini nilai-nilai pancasila terus terkikis dan bergeser di masyarakat, salah satu contohnya adalah mulai memudarnya nilai gotong royong seperti yang terkandung dalam sila ke-3 yakni persatuan Indonesia.

Para santri yang menempuh pendidikannya di pesantren yang mengusai berbagai ilmu keagamaan, ilmu umum, ilmu kehidupan dan sekarang juga ditambah dengan ilmu Teknologi. Mereka sebagai Agent of change yang dipersiapkan untuk aktif dalam menciptakan inovasi dan solusi baru dalam dunia digitalisasi yang terus berkembang ini, sehingga nantinya mereka mampu menjadi Golden Generation yang diharapkan Bangsa Indonesia. mereka diharapkan memiliki kemampuan, mempunyai semangat yang tinggi, memiliki pengetahuan yang luas, berfikir maju dan mampu menerapkan nilai-nilai agama dan juga nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila untuk mengembangkan, meningkatkan, dan memajukan Bangsa Indonesia menuju puncak keemasannya.

Pada Era Tansformasi digital yang terus berkembang pesat ini telah mengubah tatanan cara hidup, pergaulan, dan bahkan perilaku interaksi sosial masyarakat satu dengan yang lain. Menurut Listiana (2021), bahwa di zaman globalisasi sekarang ini ditandai dengan pembaruan dalam pemanfaatan teknologi di kehidupan sehari-hari. Pada satu sisi lain perubahan tersebut berdampak negatif pada kehidupan masyarakat. Dampak yang terjadi, yaitu adanya kemajuan teknologi yang muncul mengakibatkan kurangnya interaksi antar sesama.

Jadi masyarakat Indonesia yang dulunya dikenal dengan masyarakat yang menjujung tinggi nilai persatuan dengan gotong royong kini menjadi masyarakat Indonesia yang bersikap individualisme, kurangnya kepedulian terhadap yang lain karena sibuk dengan kepentingannya sendiri sehingga nilai yang terkandung pada sila ke-3 dalam pancasila yang menjadi dasar negara dan semboyan “bhineka tunggal ika” ikut terkikis dengan semakin majunya teknologi.

Kemajuan teknologi tidak dapat dipisahkan dengan kemajuan sebuah Negara, namun meski demikian bukan berarti menjadikan kita lupa dengan sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial yang harus saling peduli dan membantu sesama. Mulai munculnya sikap individualisme dalam masyarakat Indonesia bukan hal yang sepele, karena jika kita tidak dapat menemukan solusi dalam mengatasi sikap individualisme ini tentu persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia akan terancam. Maka Golden generation yang hidup di tengah-tengah pusaran teknologi informasi harus menjadi penentu arah pembangunan bangsa, yang menuntun pemikiran masyarakat untuk dapat menyeimbangkan antara kemajuan teknologi dan hubungan sosial antar masyarakat.

Oleh karena itu, Santri dan para pelajar di jenjang manapun sebagai golden generation jangan sampai kehilangan jati diri dalam era gempuran transformasi digital, karena nantinya akan berdampak signifikan bagi masa depan bangsa Indonesia. Pijakan dasar yang bersumber dari nilai-nilai kebangsaan harus menjadi acuan seluruh generasi penerus bangsa dalam keselarasannya dengan perkembangan teknologi.

Individualisme merupakan sifat yang mementingkan diri sendiri dan tidak peduli terhadap orang lain, sehingga mengingkari kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Sikap individualisme juga bisa digolongkan pada sikap egois yang ingin selalu mempertahankan keinginannya dan cenderung tidak ingin diganggu orang lain. Perilaku individualisme yang berlebihan akan sangat berdampak negatif terlebih jika perilaku individualisme ini terjadi dalam lingkungan masyarakat akan menyebabkan tingginya sifat kompetitif. Hal ini juga diperangaruhi oleh kemudahan-kemudahan yang didapatkan dari akses kemajuan teknologi sehingga membuat orang-orang banyak yang bersikap individualis.

Perwujudan sikap individualisme dalam lingkungan masyarakat ditandai dengan kurangnya interaksi sosial, kurangnya keakraban dengan tetangga, kurangnya tenggang rasa antar sesama, tidak tegursapa ketika bertemu, merasa dirinya akan membuang-buang waktu jika untuk sekedar berkumpul dengan orang-orang di sekitarnya. Sehingga dampak yang akan ditimbulkan dari perilaku individualisme di antaranya akan membuat seseorang memiliki sifat egois, masyarakat yang satu dengan yang lain akan merasa asing bahkan dengan tetangganya sendiri bisa tidak kennal, kurangnya kemampuan bergaul dan bersosialisasi, kurangnya pemahaman terhadap norma sosial di lingkungannya, hilangnya rasa solidaritas, kerukunan, dan persatuan, menyebabkan pertikaian.

Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis yang terjadi antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok. Interaksi yang dilakukan secara langsung (tatap muka) oleh masyarakat Indonesia kini mulai berubah digantikan menjadi interaksi DARING (dalam jaringan). Perubahan  pola interaksi sosial dalam masyarakat akan menghasilkan pola sikap yang lebih Individualis. Sebab perubahan dari interaksi langsung menjadi interaksi DARING memiliki perbedaan, di antara peran emosional dan kontak sosial yang dilakukan tidak secara utuh.

Demi menciptakan masyarakat sosial yang mampu menjujung persatuan dan kerukunan dengan masyarakat yang lain salah satu caranya yakni, dengan masuk dalam lingkungan pemikiran mereka. Jadikan kita sebagai teman, sahabat, dan keluarga bagi semua masyarakat. Ketika kita sudah mampu menjadi bagian terdekat dari setiap masyarakat kita akan mengetahui bagaimana arah pemikiran mereka, tentang sebab kenapa mereka bersikap demikian, sehingga dengan itu kita  dapat mengetahui metode dan argumen apa yang akan digunakan untuk dapat mengubah cara berpikir mereka tentang sesuatu hal. Kita berikan pemahaman dan keyakinan baru mengenai makna dan pentingnya gotong royong.

Mengembangkan pemahaman dan keyakinan baru pada tiap masyarakat mengenai kehidupan sosial yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia harus didasarkan pada kesadaran tiap masyarakat bahwasanya apa yang dimiliki dan apa yang diinginkan tidak akan lepas dengan andil orang lain didalamnya. Jadi untuk mencegah, menimalisir dan mengatasi perilaku individualisme dalam masyarakat yakni dengan mengadakan layanan konseling pada masyarakat, di situ kita tidak hanya memberikan materi namun kita juga jadikan sebagai wadah untuk menampung keluh kesah permasalahan masyakat.

Di era transformasi digital ini masyarakat Indonesia lebih banyak menghabiskan waktunya di dunia digital seperti: Tik-tok, Whatsapp, YouTube, Intagram, dan media sosial lainnya sehingga mengurangi interaksi sosial dengan masyarakat yang lain. Begitu juga data yang kami baca mengenai populasi penggunaan internet masyarakat Indonesia  di awal tahun 2023 mencapai 212,9 juta, angka tersebut mengalami pertumbuhan jika dibandingkan dari tahun-tahun sebelumnya,

we-are-social.png

Oleh karena itu, di sini golden generation mempunyai peran penting untuk menyediakan layanan konseling secara langsung maupun berbasis digital, karena seperti yang kita tahu bahwasanya kita harus mampu menjadi bagian terdekat bagi masyarakat baik secara langsung maupun melalui media digital. Peranan jalur media digital sangat menjajikan karena pengaruh media digital sangat luas mulai dari anak-anak hingga orang tua. Sosialisasi yang dilakukan melalui media digital begitu cepat dan menari sehingga semua kalangan bisa menikmati baik melalui pers, radio, telivisi dan internet. Sehingga membuka peluang besar untuk masuknya sosialisasi secara menyeluruh dan mudah diterima.

Penggabungan ilmu agama dengan teknologi di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam tentu akan memudahkan kita untuk mempromosikan aplikasi layanan konseling ini. Sehingga nantinya dapat menimalisir dan bahkan menghilangkan perilaku indivisualisme dalam masyarakat Indonesia. Jadi kita dapat memanfaat dunia digital sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan dan manfaat untuk menghimbau seluruh masyarakat Indonesia agar hidup rukun, saling tolong menolong dan menghormati sesama.

Kami sangat yakin dengan adanya kontribusi santri sebagai golden genaration melalui layanan konseling barbasis langsung maupun digital  nantinya akan dapat mewujudkan masyarakat Indonesia yang tidak hanya paham terhadap dunia digital namun mampu menjadikan masyarakat Indonesia yang berilmu ilmiah, beramal ilahiah dan berakhlakul karimah. Jadi dengan adanya layanan konseling ini sebagai solusi untuk mengatasi sikap individualisme dalam  masyarakat Indonesia.

 

Bahan Rujukan dan Bacaan

http://www.wantiknas.go.id/id/berita/persiapkan-generasi-muda-untuk-percepatan-transformasi-digital

Nisa, Hanifatu. (2019). Problelmatika Gotong Royong dalam Arus Globalisasi Menjadikan Masyarakat Individualis. Universitas katolik Widya Mandala Madiun

* Mahasiswa PBA IAIN Madura