Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 322551

Email

pba@iainmadura.ac.id

Media Jari dan Tangan dalam Mengajar Bahasa Arab; Praktis dan Menyenangkan

  • Diposting Oleh Admin Web PBA
  • Selasa, 9 Januari 2024
  • Dilihat 632 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Nurul Hadi, M.Pd.

Banyak penelitian membuktikan bahwa menggunakan media dalam mengajar membantu para pelajar untuk lebih cepat menangkap dan memahami materi pelajaran. Karena semua panca indra manusia mempunyai potensi yang sama dalam memperoleh pengetahuan. Maka, teorinya: semakin banyak indra yang digunakan dalam proses belajar siswa semakin kuatlah ingatan dan daya serap mereka terhadap materi yang sedang dipelajari. Begitu kata Ahmad Khairi Muhmmad Kadzim dan Jabir Abdul Hamid Jabir dua orang pakar media pembelajaran dari Universitas Ain As-Syam, Kairo Mesir (1997: 67).

Bukti lain yang menguatkan teori tadi, adalah hasil penelitian yang diungkapkan oleh Abdurrahman bin Ibrahim Al-Fauzan (2011: 108) tentang daya ingat manusia, bahwa hanya 20% manusia mampu mengingat dari apa yang dia dengar dan 30% mengingat dari apa yang dilihat. Sisanya 50% hanya diingat pada saat mendengar dan melihat saja, setelah itu lenyap entah ke mana? Kalau begitu, perpaduan antara mendengar dan melihat pada saat belajar tentu akan lebih menambah daya ingat siswa daripada hanya mendengar saja, atau melihat saja. Perpaduan semacam ini dapat dilakukan dengan menggunakan media pembelajaran pada saat proses belajar mengajar (KBM) berlangsung.

Ketika disebut istilah media pembelajaran, banyak guru membayangkan sesuatu yang mahal, ribet, butuh keahlian dan persiapan matang. Ya, itu benar apabila yang dimaksud adalah media pembelajaran berbasis computer, atau alat-alat teknologi lainnya, seperti laboratorium, alat peraga dan lain sebagainya. Banyak guru enggan menggunakan media karena alasan klasik tersebut, yaitu keterbatasan sekolah, keahlian guru dalam mengoprasionalkan teknologi dan lain-lain. Pada saat, saya mengajar bahasa Arab di pondok pesantren di Pamekasan Madura, memang alasan semacam itu sering saya dengar dan saya maklumi. Namun demikian, semangat untuk mengajar bahasa Arab tidak pernah padam demi menambah para pecinta Al-Quran dan dalam rangka menyiapkan pemimpin ummat Islam.

Setiap kali mengajar bahasa Arab, saya terus berpikir keras untuk menggunakan media karena termotivasi oleh teori pembelajaran di atas yang saya ketahui. Namun kenyataan di lapangan berkata lain, untuk menutupi kelemahan ini saya harus mencari cara dan strategi praktis dan menyenangkan. Saya juga banyak terinspirasi oleh buku aktive learning dalam pembelajaran bahasa Asing. Apalagi, saya juga sangat tertarik dengan metode komunikatif (at-thariqoh al-ithtishaliyah) dengan beragam teknik yang sangat variatif. Saya pun mulai merencanakan pengajaran bahasa Arab di Pesantren tersebut dengan membuat silabus pengajaran yang didesain untuk pemula dalam 20 kali tatap muka. Setiap pertemuan, saya rumuskan situasi-situasi (mawaqif) yang dibutuhkan dalam komunikasi bahasa Arab untuk pemula. Alhamdulillah, saya dapatkan 20 situasi yang berbeda dalam setiap pertemuan. Dari masing-masing situasi tersebut, saya siapkan contoh percakapan singkat dalam bentuk media buku, ditambah dengan 10-20 kosakata (mufradat) yang mendukung setiap situasinya, dan dilengkapi latihan singkat. Jadilah media buku ajar 40 halaman kertas A4 dibagi dua.

Dari sini, bayangan tentang strategi dan atau media yang mau saya gunakan di dalam kelas pembelajaran bahasa Arab sudah menemukan titik terang. Ternyata, saya pun bisa menggunakan media sederhana yang praktis dan menyenangkan dalam pembelajaran bahasa Arab. Kalau Anda ingin tahu situasi yang saya himpun dalam bentuk silabus sederhana tadi berikut dengan media atau strategi apa yang saya siapkan, berikut ini akan saya sampaikan di tabel di bawah ini:

Pertemuan

Situasi

Kosakata

Strategi (Media Pendukung)

Durasi Waktu

Ke-1

Perkenalan (التعارف)

10 kosakata

Potongan Kertas perkenalan

90 menit

Ke-2

Penghormatan (التحيات)

15 kosakata

SMS berantai

90 menit

Ke-3

Pertanyaan tentang Hari

(السؤال عن الأيام)

20 kosakata

Jari dan tangan

90 menit

Ke-4

Kelasku Bersih

(فصلي نظيف)

20 kosakata

Benda-benda dalam kelas

90 menit

Ke-5

Macam-macam Nomor (الأرقام)

20 kosakata

Jari dan tangan

90 menit

Ke-6

Menggunakan Alat-alat (الألات)

20 kosakata

Pantomim

90 menit

Ke-7

Menceritakan Gambar

(احك ما تعرف من الصورة)

10 kosakata

Potongan gambar-gambar pilihan

90 menit

Ke-8

Ayahku Petani (أبي فلاح)

15 kosakata

Pantomim

90 menit

Ke-9

Kamu Suka atau Tidak?

(هل تحب أم لا؟)

10 kosakata

Gambar kartun terkenal

90 menit

Ke-10

Aktivitas Harian

(الأعمال اليومية)

20 kosakata

Cerita pengalaman pribadi

90 menit

Ke-11

Berbicara via Telepon

(المكالمة التلفونية)

20 kosakata

Drama

90 menit

Ke-12

Rute Pondok

(خريطة المعهد)

10 kosakata

Peta pondok buatan

90 menit

Ke-13

Simulasi Proses Sederhana

(تمثيل العملية البسيطة)

15 kosakata

Simulasi perkelompok

90 menit

Ke-14

Keluarga dan Famili

(الأسرة والأقارب)

20 kosakata

Drama

90 menit

Ke-15

Mendeskripkan Orang

(وصف الإنسان)

20 kosakata

Gambar orang-orang terkenal

90 menit

Ke-16

Menjenguk Orang Sakit

(عيادة المريض)

15 kosakata

Drama

90 menit

Ke-17

Di Pasar (في السوق)

20 kosakata

Demonstrasi

90 menit

Ke-18

Sholat Berjamaah

(صلاة الجماعة)

10 kosakata

Dialog

90 menit

Ke-19

Rasa dan Warna

(الطعام واللون)

20 kosakata

Kartu berwarna

90 menit

Ke-20

Kebersihan (النظافة)

20 kosakata

Sosialisasi dan praktik

90 menit

20 pertemuan

20 situasi

330 kosakata

 

 

 

Setelah saya membuat silabus ini, pengajaran bahasa Arab yang akan saya laksanakan di pondok tersebut sudah tergambar dengan jelas di pelupuk mata, meskipun saya belum berbuat apa-apa. Seuntas senyum mulai mengembang dari bibirku seakan baru saja menemukan emas satu kilo J.

Barangkali, Anda masih penasaran, apa yang saya lakukan di dalam kelas? Atau Anda mungkin bertanya kenapa 20 pertemuan? Kenapa pula 330 kosakata? Jangan-jangan itu semua ada rahasianya, hmm? Berikut ini saya coba jelaskan satu persatu dari spekulasi pertanyaan Anda tadi, meskipun tentu barangkali Anda lebih memilih jawaban Anda sendiri ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama. Apapun yang Anda pilih itu 100% hak prerogatif Anda, saya hanya memaparkan pengalaman pribadi saja.

Di dalam kelas, sejak pertama kali tatap muka, saya sudah mengumpulkan banyak muka manis dan sejuta senyuman menatap siswa. Sebelum memulai, pengaturan kelas yang meliputi tempat duduk, konsentrasi siswa dan pandangan wajah saya alihkan dalam kendali penuh, tentu saja suasana bahasa Arab sudah dikondisikan dalam komunikasi atau intruksi-intruksi. Saya selalu berpikir, pertemuan pertama harus optimal dan mengesankan. Saya teringat kata mutiara Arab: “min husni an-nihayah husnu al-bidayah” (tanda akhir yang baik, diawali dengan permulaan yang baik). Atau dalam bahasa yang lain: “kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda”.

Berkenaan dengan judul di atas, saya ingin berbagi soal menggunakan jari dan tangan dalam pengajaran bahasa Arab. Kali ini saya ingin mencontohkan tentang situasi “bertanya tentang hari” (السؤال عن الأيام). Di sini, saya ajak siswa untuk konsentrasi menatap jari saya. Ada tujuh jari yang saya perlihatkan kepada mereka dengan diberikan nama-nama hari: jempol kanan=ahad, telunjuk kanan=itsnain, jari tengah kanan=tsulatsa, jari manis kanan=arbi’a’, kelingking kanan=khamis, jempol kiri=jum’ah, dan telunjuk kiri=sabtu. Lalu diulang bersama. Setelah itu, saya tanyakan mereka dengan satu pertanyaan berbahasa Arab: أي يوم هذا اليوم؟ “hari apa ini (sambil memperlihatkan jari tadi secara acak)?” mereka secara bersamaan menjawab: هذا اليوم يوم ... “hari ini adalah hari ... (sesuai dengan jari yang diperlihatkan). Setelah mereka fasih secara berjamaah, kini giliran pertanyaan untuk perorangan.

Selanjutnya, materi tambahan menggunakan tangan. Ini berkenaan dengan ungkapan bahasa Arab tentang: besok (غدا)=tangan kanan lurus ke depan, hari ini (اليوم)=tangan kanan menunjuk ke bawah (tengah), kemarin (بالأمس)=tangan kanan ke atas menunjuk ke belakang. Sedangkan tangan kiri lurus ke depan= besok malam (القابلة), tangan kiri ke bawah (tengah)=malam ini (الليلة) dan tangan kiri atas menunjuk ke belakang=tadi malam (البارحة). Lalu dipraktikkan kepada siswa sampai fashih secara berjama’ah maupun perorangan.

Pengenalan hari dan pertanyaan-pertanyaan seputar itu dengan menggunakan media jari dan tangan tadi sangat cepat dipahami oleh siswa pemula. Waktu yang dihabiskan kurang lebih 30 menit. Masih tersisa waktu 60 menit, maka selebihnya saya atur duduk siswa agar berhadap-hadapan untuk mempraktikkan pertanyaan tentang hari dengan temannya secara bergantian. Setelah itu, secara acak saya memilih di antara siswa maju ke depan untuk menjadi tutor dengan memperagakan seperti guru yang mengajarkan hari kepada siswanya, tiga sampai lima orang. Terakhir, latihan tertulis sehingga siswa bukan hanya bisa secara lisan (percakapan) tetapi juga mengetahui materi secara tulisan. Pada sesi latihan tertulis ini, saya sedikit demi sedikit mengenalkan materi kaidah nahwu fungsional (an-nahwu al-wadzifi)  yang langsung dipraktikkan dalam latihan. (Nuha)