Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 322551

Email

pba@iainmadura.ac.id

PERTUKARAN BUDAYA DALAM SINEMA: MENJEMBATANI KESENJANGAN BUDAYA ARAB DAN BARAT MELALUI LENSA LAYAR LEBAR

  • Diposting Oleh Admin Web PBA
  • Senin, 4 Maret 2024
  • Dilihat 598 Kali
Bagikan ke

Oleh: Uyun Thayyibah

Jembatan yang dapat menyatukan semua dunia adalah cinta yaitu dengan saling memahami satu sama lainnya. (Frederick Lenzo) Kesenjangan budaya atau  A cultural divide merupakan penghambat interaksi dan pertukaran harmonis bagi pemilik ragam budaya akibat adanya perbedaan budaya. (Prentice, 2001) Dengan kata lain kesenjangan budaya merujuk pada ketidak saling pemahaman antar dua atau  lebih kelompok budaya yang berbeda. Perbedaan ini dapat mencakup nilai-nilai, norma sosial, keyakinan, bahasa, dan praktik kehidupan sehari-hari. Kesenjangan budaya dapat muncul di tingkat lokal, nasional, atau bahkan internasional. Kesenjangan ini juga terjadi antar budaya Arab dan Barat. Budaya Arab dipengaruhi oleh Islam, yang menekankan pada nilai keluarga, dan solidaritas sosial. Di sisi lain, budaya Barat mencerminkan nilai-nilai individualisme, pluralisme, dan seringkali dipengaruhi oleh sejarah Kristen. Kesenjangan budaya dapat dijembatani melalui pertukaran budaya dengan saling berbagi nilai, tradisi, dan pemahaman, untuk memperkuat hubungan antarbudaya dan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis.

Dalam industri film pertukaran budaya juga bukan hal yang tidak mungkin terjadi. Film merupakan salah satu  media komunikasi massa yang dapat memberi dampak positif dan negatif. Film memiliki kemampuan dan berpotensi dalam mempengaruhi  khalayak yang menontonnya. (Alex, 2004:127) Sedangkan dalam UU no 33 tahun 2009 tentang perfilman, mengatakan bahwa " film adalah sebuah karya seni budaya yang merupakan suatu pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat atas dasar kaidah sinematografi dengan ataupun tanpa suara dan dapat dipertunjukkan." Pernyataan ini mendukung pandangan bahwa film adalah karya seni budaya yang dapat menjadi jembatan dalam memperkenalkan dan mengkomunikasikan  nilai-nilai, norma sosial, keyakinan, bahasa, dan praktik kehidupan sehari-hari yang dimiliki kelompok budaya tertentu  kepada kelompok budaya lainnya.

 

Berdasarkan data yang diterbitkan Jajak Pendapat (Jakpat) pada tahun 2022, genre film yang paling banyak diminati generasi Z dan generasi X adalah genre film komedi dengan  menyentuh presentase 73%. Kemudian diikuti genre laga atau action dengan jumlah 71%, genre drama 65% dan  horor  54%. Sementara dari data 10 besar pasar film terbesar dunia versi CNN, negara-negara barat mendominasi sebagai pasar besar industri perfilman seperti amerika, jerman, inggris perancis dan australia. Dari dua data diatas  dapat diambil kesempatan pertukaran budaya Arab ke dalam industri film barat melalui daftar genre film tertinggi yang diminati generasi Z dan X. Oleh karena itu, pertukaran budaya melalui lensa layar sinema, dapat dijadikan solusi yang solutif dalam menjembatani kesenjangan budaya Arab dan Barat.

Analisis Film A Hologram for the King

Film A Hologram for the King merupakan drama komedi produksi  Jerman-Amerika Serikat yang disutradarai Tom Tykwer pada tahun 2015, film ini diangkat dari sebuah novel  karya  Dave Eggers yang diterbitkan pada tahun 2012.  Didalamnya menggambarkan perjalanan bisnis seorang eksekutif Amerika bernama Alan Clay yang diperankan oleh Tom Hanks di Arab Saudi. Alan menerima tugas dari perusahaan untuk bertemu klien potensial di Arab Saudi. Dalam rangka memperkenalkan mesin hologram milik perusahaan asal Amerika Serikat di hadapan Raja Arab Saudi. Film ini secara visual sangat menarik dengan  pengenalan budaya baru yang berbeda dengan budaya sang aktor utama. Meskipun tidak mencapai kesuksesan komersial dalam jumlah besar, film ini tetap menarik bagi penonton yang menghargai eksplorasi  antarbudaya.

Dalam "A Hologram for the King," eksplorasi budaya tercermin dalam berbagai aspek. Seperti, gambaran kehidupan sehari-hari di Arab Saudi, yang meliputi norma sosial dan etika berbisnis, poin ini memberikan pandangan mendalam kepada penonton tentang perbedaan budaya khususnya budaya Arab dan Barat. Selain itu, Film ini juga menggambarkan dinamika yang kompleks dan penuh tantangan dalam lingkungan yang berbeda secara budaya. Secara eksplisit beberapa elemen budaya yang diceritakan dalam film ini meliputi;

Norma Sosial: Salah satu contoh kesenjangan budaya dalam "A Hologram for the King" dapat ditemukan dalam situasi bisnis yang terkadang membingungkan karakter utama, Alan Clay. Beberapa adegan menunjukkan kesulitan Alan dalam menavigasi norma-norma bisnis Arab, seperti waktu yang dianggap lebih fleksibel, bagi budaya Arab keterlambatan  dianggap sebagai bagian yang dapat diterima. Akan tetapi dalam  budaya Barat, keterlambatan sering dianggap kurang sopan dan tidak menghargai waktu orang lain. Perbedaan ini dapat menciptakan kesalahpahaman antar dua pemilik berbeda. Namun,  film ini lebih fokus pada perjalanan pribadi karakter utama dan eksplorasi antarbudaya daripada mengekspos kesenjangan budaya secara eksplisit.

Eksplorasi Bisnis: Adegan dalam "A Hologram for the King" yang menunjukkan eksplorasi bisnis di Arab Saudi terjadi ketika karakter utama (Alan Clay), berusaha untuk menjual teknologi hologram kepada pemerintah Arab Saudi. Dalam  upayanya, ia harus menavigasi berbagai kebiasaan bisnis dan prosedur negosiasi yang berbeda dari yang biasa dialami di Amerika. Seperti Pentingnya hubungan personal, Alan harus membangun hubungan dengan klien dan mitra potensial sebelum memulai pembicaraan bisnis yang serius. Begitupun negosiasi bisnis sering kali terjadi dalam konteks makan malam atau acara resmi lainnya. Dan juga pentingnya etika dan tata krama dalam berbisnis, dalam "A Hologram for the King" Alan perlu memperhatikan etika dan tata krama bisnis yang berlaku, seperti berbicara dengan hormat, menghormati hierarki, dan mematuhi norma sosial yang ada. Dengan menyelami aspek-aspek ini, adegan tersebut dapat memberikan gambaran tentang kompleksitas dan nuansa dalam menjalankan bisnis di Arab Saudi.

Lanskap dan Arsitektur: Penggambaran lanskap, arsitektur, dan lingkungan fisik Arab Saudi memberikan pandangan visual serta memperkenalkan tentang keindahan dan keragaman yang ada di negara tersebut.

Analisis Film Amreeka

Amreeka merupakan film yang disutradarai oleh  Cherien Dabis. Film ini menceritakan seorang warga palestina bernama Muna dan Fadi (Anak remajanya) yang  memutuskan untuk meninggalkan negara mereka dan pindah ke Amerika Serikat untuk memulai kehidupan baru. Film ini rilis pada tahun 2009.

Dalam "Amreeka," terdapat beberapa nilai dan poin penting yang mencerminkan  budaya Barat dan Arab:

Pertukaran Budaya Positif: Potensi pertukaran budaya positif di tengah-tengah perbedaan. Salah satu adegan dalam "Amreeka" yang menyoroti perbedaan budaya antara Timur Tengah dan Amerika terjadi ketika Muna Farah, bersama putranya Fadi, menghadiri acara di sekolah Fadi. Pada acara tersebut, orang tua dan siswa diundang untuk membawa hidangan makanan khas negara mereka. Muna membawa makanan tradisional Palestina bernama "makloubeh" ke acara tersebut. Makloubeh ialah nasi yang disajikan dengan daging dan sayuran. Ketika Muna membuka kotaknya, beberapa orang tua dan siswa menunjukkan ekspresi ketidaknyamanan terhadap aroma makanan yang dibawa Muna. Namun, setelah mencoba makanan tersebut, mereka mulai merasakan kelezatannya dan memberikan apresiasi pada keunikan makanan yang dibawa oleh Muna. Adegan ini mencerminkan perbedaan dalam hal kuliner yang dapat menjadi perwakilan dari keragaman budaya yang lebih luas, sekaligus menyoroti potensi pertukaran budaya yang positif melalui pemahaman dan saling menghargai.

Kesenjangan Budaya di Tempat Kerja:Film ini menggambarkan perbedaan norma-norma budaya di tempat kerja Amerika, seperti dalam adegan di restoran cepat saji. yang menunjukkan perbedaan budaya antara Barat dan Arab. Dalam "Amreeka" terjadi ketika Muna mulai bekerja dan menghadapi tantangan dalam berkomunikasi dengan rekan kerja dan pelanggan karena perbedaan bahasa dan budaya. Pada suatu hari, Muna dihadapkan dengan pelanggan yang memesan pesanan dengan bahasa yang cepat sehingga Muna mengalami kesulitan memahami pesanan tersebut dan akhirnya memberikan pesanan yang salah. Kejadian ini menciptakan situasi kocak dan memperlihatkan kesenjangan bahasa yang bisa menjadi hambatan dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan Adaptasi Anak-anak Imigran: tantangan ini terdapat pada adegan saat Fadi, putra Muna, selama jam istirahat  mencoba bergabung dengan kelompok anak-anak Amerika yang bermain sepak bola. Namun, karena perbedaan bahasa dan latar belakang budaya, Fadi mengalami kesulitan untuk berinteraksi dan akhirnya merasa terisolasi. Dalam adegan tersebut, anak-anak Amerika diawali dengan sikap skeptis terhadap Fadi, mungkin karena kekurangpahaman mereka terhadap budaya Arab atau hanya karena perbedaan yang terlihat. Fadi berusaha menjelaskan beberapa hal tentang negaranya asal dan mengenalkan dirinya, tetapi gap budaya ini masih menciptakan rasa jarak antara dirinya dan teman-teman sekelasnya. Dengan menggambarkan pengalaman Fadi di sekolah, film ini mencerminkan bagaimana perbedaan budaya tidak hanya terbatas pada bahasa, tetapi juga melibatkan norma sosial, nilai-nilai, dan cara pandang yang berbeda antara budaya Barat dan Arab.

Dari hasil analisa terhadap dua film di atas yaitu A Hologram for the King dan Amreeka dapat ditarik benang merah bahwa dua film tersebut berupaya memberi wawasan mengenai karakteristik dan keunikan dua budaya ini, serta memberi pemahaman kepada khalayak umum tentang perbedaan antar keduanya. Sehingga dapat menciptakan saling pemahaman dan mengurangi kesenjangan antar pemilik dua budaya tersebut. Dua film ini mengajak penonton untuk merenungkan tentang pentingnya saling  pemahaman, toleransi, dan keberagaman dalam masyarakat multikultural.

Program pertukaran budaya dalam sinema adalah penyampaian informasi secara visual tentang keunikan budaya, utamanya budaya Arab dan Barat melalui lensa layar lebar. Output dari program ini adalah  masyarakat dapat saling memahami perbedaan dan kesenjangan budaya. Selain itu, setiap orang dapat menghargai budaya lain  yang berbeda serta  dapat mengurangi kesenjangan antar pemilik dua budaya tersebut.

Terdapat dua topik film yang diajukan, pertama mengeksplor kebiasaan atau tradisi dalam kehidupan sehari-hari dan mengungkap keunikan dari budaya Arab dan Barat. Pertama mengangkat topik tentang tradisi atau kebiasaan sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat Arab dan Barat.  Misalnya masyarakat negara barat lebih menekankan pada individualisme, anak yang sudah mulai remaja dituntut bisa hidup mandiri. Seperti Remaja yang sudah memasuki usia 18 tahun, dengan  meninggalkan rumah untuk berpisah dari orang tua. Berdasarkan survei Pew Research Center tahun 2021, banyak dari remaja Amerika lebih memilih hidup secara mandiri dengan beralasan hidup bersama orang tua di usia dewasa merupakan kegagalan dalam proses pendewasaan.( Anggraeni, 2023) Hal ini berbanding terbalik dengan beberapa negara Arab, seperti Lebanon, yang memiliki hubungan keluarga bersifat kokoh, dan kebersamaan dianggap sangat penting. Anak-anak tetap tinggal bersama keluarga dan orang tua tetap mempengaruhi pengambilan keputusan anak hingga dewasa dan melangsungkan pernikahan. (Culturalatlas.com) Perbedaan dalam  kedekatan  hubungan keluarga dan individualisme dapat menciptakan  kecendrungan yang berbeda antara individu dari budaya Barat dan Arab. Kesadaran akan perbedaan ini dapat membantu dalam membangun saling pengertian dan menghormati nilai-nilai keluarga yang berbeda.

Kedua topik yang membuka jendela cakrawala tentang kekayaan budaya dari dua dunia yang berbeda, yaitu Arab dan Barat. Dengan tujuan dapat memberikan wawasan mendalam tentang ciri khas masing-masing budaya. Sebagai contoh kesenjangan budaya antara Arab dan Barat ialah dari segi Pakaian dan Kebiasaan di Tempat Umum. Dalam Budaya Eropa norma berpakaian cenderung tidak konservatif atau lebih santai. Namun sebaliknya di beberapa negara Timur Tengah, norma berpakaian cendrung konservatif, dengan lebih menyukai pakaian berlengan panjang, menjuntai ke bawah dan menutup tubuh (Thohari, 2020), hal ini identik dengan pakaian dalam agama Islam yang diharuskan menutup aurat seperti menutup seluruh tubuh bagi perempuan. Kesenjangan dalam norma berpakaian tersebut menimbulkan perbedaan persepsi tentang pakaian mana yang dapat dianggap pantas atau sopan digunakan di tempat umum. Kesenjangan ini juga mencerminkan perbedaan nilai dan norma budaya dalam kehidupan sehari-hari yang dapat menciptakan ketidaksepahaman antara masyarakat dunia Barat dan Arab.

Dengan upaya  mengatasi kesenjangan budaya antara Arab dan Barat, diharapkan para sutradara dapat merespon dengan membuat film-film yang menjelajahi dan mengangkat tema kesenjangan budaya. Produksi film akan menjadi jembatan untuk memahamkan khayalak umum mengenai perbedaan dan kemiripan antara budaya Arab dan Barat. Lebih lanjut, kesadaran dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat terhadap film-film semacam ini dianggap sangat penting, karena hal ini dapat memperluas pemahaman, mengurangi stereotip, dan memupuk toleransi di tengah-tengah masyarakat global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alex, Sobur. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.

Anggraeni, Annisa Dewi. 2023. Budaya Tinggal Terpisah dari Orang Tua di Usia 18 Tahun. (17 November 2023) https://kumparan.com/annisadewi2405/budaya-tinggal-terpisah-dari-orang-tua-di-usia-18-tahun-baik-atau-tidak-20VkazxjlkC

Budaya Lebanon. (17 November 2023) https://culturalatlas-sbs-com-au.translate.goog/lebanese-culture/lebanese-culture-family

CNN Indonesia. 10 Pasar Film Terbesar Dunia. (16 November 2023) https://www.cnnindonesia.com

Prentice, Deborah A.; Dale T.Miller, penyunting. Kesenjangan budaya: memahami dan mengatasi konflik kelompok . New York: Yayasan Russell Sage, 2001. 

Santika, Erlina F. Komedi Jadi Genre Film Paling Disukai Generasi Milenial. (16 November 2023) https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/01/27

Thohari, Hajriyanto Y. 2020. Antropologi Pakaian Orang Arab: Semakin Tradisional Semakin Maju? (17 November 2023) https://ibtimes.id/antropologi-pakaian-orang-arab-semakin-tradisional-semakin-maju/

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 33 tahun 2009